Perempuan dan Karier

Tanggal 25 Mei 2016 lalu saya dapat kesempatan emas untuk ikut kelas coaching bersama mas IPPHO Santosa. Salah satu hal yang menggelitik bagi saya adalah pertanyaan unik dari salah satu anak saya.

“Kan saya bisnis mas, terus kalau nikah kan harus ikut suami maunya gimana, terus saya gimana?”

Pertanyaan polos menurut saya, buat saya simple. cari aja suami yang ngedukung istrinya buat bisnis hehehe. Yep mungkin kenyataan tak seindah ekspektasi, tapi bukan itu yang mau saya bahas sekarang.

Pertanyaan itu berbuntut panjang ke sebuah penjelasan yang mas Ippho jabarkan dan saya mengamininya (sebenernya sih cari pembelaan hahhaha).

Mas Ippho menyampaikan,

Pada hakikatnya laki-laki dan perempuan itu berbeda dan tanggungan untuk biaya hidup adalah tanggung jawab laki-laki. Perempuan memang sebaiknya di rumah, tapi apakah bekerja dan berbisnis itu haram bagi perempuan? NO! BIG NO!

Tapi untuk menjaga perempuan, ada baiknya barang yang kita bisniskan adalah barang yang memang mayoritas pembeli dan pencarinya adalah perempuan.

Contoh? Fashion perempuan, alat masak, kosmetik dan semua yang related to women. Sebaiknya hindari perempuan menjual baju koko, alat cukur jenggot atau sesuatu yang pasarnya mayoritas lelaki.

Kenapa?

Karena dalam transaksi jual beli, baik offline apalagi online pasti ada interaksi antara penjual dan pembeli, baik via whatsapp, sms, atau bahkan telpon menelpon. Nah! Kalau mayoritas pasar kita adalah wanita otomatis yang menghubungi adalah wanita, memang tidak mungkin 100% tapi setidaknya 90% yang akan menghubungi adalah wanita.

Oke, saya ngangguk-ngangguk.

Poin selanjutnya adalah, laki-laki dan perempuan itu berbeda.

Laki-laki sangat cocok bekerja dengan target, karena target-target pencapaian dan tantangan itulah yang membuat laki-laki bersemangat. Adrenalin dan hormon terpacu, dan uniknya adalah semakin banyak kerjaan semakin banyak target dan pergerakan, laki-laki akan semakin sehat (taukan kenapa laki-laki suka sama perempuan yang misterius, jutek dan menantang).

Itulah kenapa bapak-bapak yang udah pensiun, nggak punya kerjaan dan di rumah aja cenderung sakit-sakitan. Pernah liat kakek-kakek tua yang jualan keliling dan masih seger buger? Nah mungkin itu salah satu contoh kakek-kakek yang tetep banyak bekerja dan bergerak.

Berkebalikan dengan perempuan, pada dasarnya perempuan adalah malaikat. Lemah lembut, penyayang dan bekerja dengan hati. Makanya perempuan lebih tahan gendong anak berjam-jam, sedangkan laki-laki baru sejam aja udah nyerah (btw, kmrn habis gendong anak temen, Cuma 10 menitan, nggak berasa sih tapi selesai gendong pegel mas bro! Hahaha). Kalau perempuan dikasih tekanan, hormon kasih sayang pada perempuan bisa menurun, efeknya?

Uring-uringan, ngomel-ngomel, stress, jadi kasar dan sebagainya. Kata mas ippho, itu juga jadi salah satu penyebab kenapa akhirnya perempuan lahiran susah, asi nggak keluar, ya karena stress itu. ASI itu anugrah dari Allah dan pasti ada untuk setiap anak yang lahir, coba deh cek ada nggak dulu nenek-nenek kita dan teman-temannya yang asinya nggak keluar? (saya belum ngecek sih sejujurnya, kalau mau ngecek boleh loh, nanti laporin yak!)

Jadi?

Jadi sebenernya perempuan itu boleh kok kerja, dengan catatan jangan yang bertarget. Bisnis juga boleh, tapi bisnis yang let it flow aja jangan maksa narget segala macem. Perempuan juga boleh bekerja di bidang yang memang butuh perempuan di sana, contoh kesehatan, pendidikan dan satu lagi saya lupa hehehe. Karena katanya nggak lucu kalau yang nyebokin anak-anak TK laki-laki, karena.. yaah masa perlu dijelasin sih?

Tapi ini juga saya setuju, super setuju (pembelaan)

Saya mengalami yang namanya membuang jatah hidup saya empat jam setiap harinya di jalan wkwk, PP BSD-Depok untuk kuliah dan BSD-Warung Buncit itu memang membunuh, but i love it. Banyak cerita yang bisa saya dapat, kapan-kapan dishare deh. Perjalanan kuliah saya, pokoknya kalau ada kelas pagi, bis nggak dateng-dateng, jalan macet atau angkot penuh terus, itu membuat kepala saya mendidih.

Nggak jarang ngomel-ngomel dalam hati, ngehujat Jakarta sampe kesel sendiri kenapa saya harus kuliah di Depok. Sampai puncaknya di akhir semester satu saya nangis-nangis turun dari bis di pasar rebo, saya kesel banget kenapa harus kuliah di Depok bahahahha, dilanjut dengan sakit aneh, tiba-tiba mimisan banyak banget pas sholat maghrib di rakaat kedua di kampus pula dan masih nyisa beberap hari setelahnya, terus sakit yang bikin saya nggak makan nasi 3 hari, mayan tuh padahal jadi kurusan >.<

Dan itu yang akhirnya membuat saya jadi manusia yang rada selow, jadi lebih plegmatis. Telat yaudah telat aja, nggak masuk kelas nggak masuk aja, nilai A, B, C, D bodo amat, nggak mau berangkat kuliah ya nggak usah berangkat.

Termasuk sekarang kerja, empat jam hidup saya terbuang dijalan setiap harinya, jam masuk jam 9 pokoknya kalau telat yaudah telat aja, nggak usah dijadiin bahan stress, nggak usah dipikirin karena kl dipikirin jadi uring-uringan sendiri, pundung dan di kantor bawaannya bad mood. Potong poin bodo amat, potong gaji nggak mikirin, dipecat yasudah hahahahaha

Karena saya pernah nyoba untuk mikirin dan sampe kantor muka saya butek, bad mood.

Jadi, mendingan mana? Nggak usah dipikirin kan? *evil laugh

Listania Puspita Ikasari  – BSD, 6 Juni 2016

posting tulisan yang udah berdebu di lepi

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s